Menjadi Orang Ikhlas Dengan Mengubur Ke-AKU-an

berbagiberkah.org

Seseorang bernilai karena nyawanya. Betapapun cantik dan tampannya seseorang, ketika nyawanya tiada, tidak ada seorang pun yang mau berada di sisinya. Bahkan para kekasih yang mencintainya, pasangan yang tinggal bersama, langsung menguburkannya. Ruh memberi kehidupan kepada manusia. Sama halnya dengan amal. Ia sangat bernilai karena ruhnya. Ruh amal adalah ikhlas. Amal tanpa keikhlasan bagaikan raga tanpa ruh. Bentuknya ada, tetapi tidak ada nilainya. Betapapun besarnya amal yang terlihat di mata manusia, kenyataannya tidak ada nilainya. Sebaliknya, sekecil apapun amal, jika didasari dengan ikhlas maka akan besar nilainya di sisi Allah.

Bagaimana cara menanamkan ruh ikhlas dalam beramal?

Ikhlas dipahami ketika kita tidak lagi memperdulikan dan memperhitungkan kepada siapapun selain Allah. Motif dan tujuan sedekah hanya karena Allah semata. Setiap amal dilakukan dalam ikatan antara dia dan Allah. Tidak ada pihak lain yang terlibat. Dia tidak menginginkan apa pun kecuali ridho Allah. Tidak ada keinginan pujian, sanjungan, komentar dan penghargaan, like dan share dari siapapun. Langkahnya tidak terhenti karena dihina, dan tidak pula tergesa-gesa karena dipuji.

Orang ikhlas ​​hidup dalam kebebasan sejati. Dia tidak terpengaruh oleh pendapat dan komentar orang-orang di sekitarnya. Dia tetap tenang dan terus beramal. Bahkan, ia terus memberi meski ada balasan jahat yang dihadapinya, ibarat susu dibalas air tuba. Ibarat buah kelapa, semua bagiannya memberikan manfaat, meski tidak diperlakukan dengan baik. Saat dipetik, buah kelapa dijatuhkan dari ketinggian. Itu bisa menghantam tanah dan batu. Setelah itu kelapa dibuang dan terkadang ditaruh di tempat yang gelap dan pengap. Saat akan dimanfaatkan, serabutnya dilepas secara paksa. Kelapa dipukul hingga pecah. Airnya diambil lalu buahnya dibuka. Tapi lihat… setiap bagiannya memberikan manfaat. Inilah gambaran keikhlasan. Manfaatnya terus berlanjut. terlepas dari perlakuan yang diterimanya.

Orang ikhlas ​​adalah orang yang mengubur kepentingannya sendiri. Ia berhasil mengatasi nafsu ke-AKU-an yang selalu ingin tampil di depan dan disebut-sebut. Keinginan selalu ingin tampil, dihargai dan diapresiasi. “Inilah aku, ini hasil karyaku, ini karena kerja kerasku…”, inilah hasrat hawa nafsu. Ketika ke-AKU-an ini berkuasa, seseorang beramal untuk melayani kepentingan nafsu. Di balik amalnya, ia mengharapkan timbal balik dari orang lain. Dia ingin dilihat, dikomentari, dan dipublikasikan. Dia ingin terlihat baik di depan orang lain. Riya’, sum’ah dan imbalan merupakan tujuan dari segala aktivitasnya. Dia senang dengan sanjungan dan putus asa karena celaan. Padahal, ia tidak pernah bisa memaksa orang lain untuk selalu memandangnya, memuji dan menyanjungnya. Jika dia tidak memenuhi keinginannya, dia akan menderita. Hidupnya seolah berakhir ketika ia mengharapkan pujian dan pengakuan, namun malah menerima kritik. Kehidupannya dipengaruhi oleh komentar dan pendapat orang lain yang berubah-ubah setiap saat. Ketika nafsu disembah, ia meninggalkan Allah. Karena nafsu dan Allah selalu berada pada posisi yang berlawanan. Melayani nafsu berarti meninggalkan Allah. Sebagai orang yang berjalan ke barat, pasti akan meninggalkan timur.

Baca juga : Al-Aqsa Memanggilmu! Mari Bantu Mereka Sekarang!

Orang ikhlas adalah orang yang memendam dalam ke-AKU-annya. Amalnya terus berjalan, tapi dia terkubur jauh di bawah bumi penyamaran. Dia tidak terlihat, seolah terkubur di bawah tanah. Segala amal dan kebaikannya akan dikembalikan kepada Allah. Semua ini terjadi hanya karena Allah semata. Tidak ada upaya melakukan kebaikan atau menolak keburukan kecuali dengan izin Allah. Dia tidak punya kekuatan. Jadi tidak ada yang bisa dibanggakan. Jika ada sesuatu yang patut dipuji, maka pujian itu hanya milik Allah. Amal yang dilakukannya merupakan bentuk ibadah, semata menunaikan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan posisi yang diberikan oleh Allah. Memahami bahwa tujuan penciptaannya adalah untuk beribadah kepada-Nya. Jadi puncak kemuliaan adalah ketika kita bisa beribadah. Saat beribadah, kita merasa senang, “marem”, karena Allah berkenan memberikan manfaat melalui mulut, tangan, dan tubuh kita. Karena ibadah adalah tujuan akhir, maka setelah beribadah ia tidak lagi bertanya “mana bagian untuk saya”. Semuanya sudah selesai. Yang tersisa hanyalah kebahagiaan. Selebihnya, Allah yang akan menilai amal kita.