Home news Cara Budidaya Tanaman Porang dan Cara Membuat Kripik Porang

Cara Budidaya Tanaman Porang dan Cara Membuat Kripik Porang

15
0
Cara budidaya tanaman porang

Anda ingin tahu cara budidaya tanaman porang, Jika ingin tahu cara budidaya tanaman porang, yuk simak artikel berikut ini.

Tanaman porang merupakan tanaman umbi-umbian dan termasuk dalam spesies bunga Amorphophallus muelleri. Porang tinggi akan glukomanan atau zat berupa gula kompleks dan serat larut yang berasal dari ekstrak akar tumbuhan.

Porang, atau biasa disebut Iles-Iles, merupakan tanaman penghasil umbi yang masih satu marga dengan Suweg dan Waluri. Masyarakat umum sering menyamakan tanaman ini dengan Suweg dan Walur karena sekilas terlihat mirip.

Porang memiliki kandungan glukomanan yang tinggi, yang sangat bermanfaat untuk mengontrol berat badan, menurunkan kolesterol, mengatasi diabetes dan sebagai prebiotik.

Cara Budidaya Tanaman Porang

Cara budidaya tanaman porang

Penanaman porang dapat dilakukan secara reproduktif maupun vegetatif. Tanaman porang biasanya berbunga dan menghasilkan biji dalam waktu empat tahun.

Benih yang dihasilkan kemudian harus disimpan terlebih dahulu agar dapat disemai pada musim hujan. Lahan yang bisa ditanami porang adalah lahan terbuka dan lahan yang dinaungi pohon rindang.

Cara menanam porang di lahan terbuka, bersihkan terlebih dahulu tanah dari gulma, kemudian dibajak sedikit atau digemburkan sedikit, kemudian dibuat timbunan tanah dan lubang tanam dengan jarak 25×50 cm atau 25×60 cm.

1. Cara Penanaman Tanaman Porang

Langkah selanjutnya adalah penanaman porang. Prosedur ini bisa dilakukan langsung dengan umbi atau katak. Namun, jika menggunakan bibit, akan lebih baik jika terlebih dahulu membuat persemaian dalam polybag.

Saat tanaman porang sudah mulai tumbuh serta berumur kurang lebih lima bulan, tanaman ini akan mulai menguning dan mati dengan sendirinya.

Saat itu katak yang berada di batang daun juga ikut terjatuh. Tidak perlu panik jika tanaman porang mati saat musim kemarau tiba. Ini adalah siklus alami yang sering terjadi.

Karena saat musim kemarau dimulai, tanaman porang dalam keadaan dorman. Kemudian tanaman porang dapat tumbuh kembali saat musim hujan tiba, tentunya dengan jumlah tikus yang semakin banyak dan umbi yang semakin besar.

2. Proses Pemupukan Tanaman Porang

Pada poin sebelumnya, tahap pemupukan pertama dilakukan sesaat sebelum tanam yaitu dengan pupuk kompos organik yang telah melalui proses fermentasi.

Kemudian tahap pemupukan kembali dapat dilakukan ketika tanaman porang sudah mulai tumbuh. Pupuk organik atau pupuk anorganik NPK/TSP dapat digunakan sebagai jenis pupuk.

Namun umumnya hanya sedikit jenis pupuk anorganik yang digunakan saat menanam tanaman porang. Karena tanaman porang biasanya ditanam pada awal musim hujan.

Datangnya musim hujan tentu dapat menyebabkan munculnya gulma di sekitar tanaman porang. Proses pembersihan atau penyiangan perlu dilakukan karena keberadaan gulma tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman porang.

3. Cara Penjarangan Tanaman Porang

Metode penanaman porang dilanjutkan dengan tahap penjarangan. Proses ini dilakukan bila terlalu banyak tanaman porang yang tumbuh dalam satu lubang tanam. Satu lubang tanam pun bisa tumbuh 3-4 porang.

Mengapa pengenceran diperlukan? Karena jika tidak dilakukan penjarangan, dikhawatirkan umbi porang tidak akan tumbuh tinggi.

Porang sendiri sudah bisa dipanen saat sudah mencapai 7 bulan setelah tanam, namun saat benih yang ditanam berasal dari umbi.

Jika menggunakan bibit dari bagian kodok, porang tidak dapat dipanen hingga 18-24 bulan setelah tanam. Padahal, memanen borage cukup dengan menggali umbi borage, seperti memanen umbi-umbian pada umumnya.

Umbi porang ini bisa juga dijual dalam bentuk basah atau kering. Panen porang disarankan pada saat musim kemarau karena harga umbi porang bisa lebih tinggi.

Porang Juga Bisa Anda Jadikan Kripik lho

Pertama, umbi porang dikupas dan dicuci dengan air mengalir, kemudian ditiriskan. Potong porangan menjadi irisan tipis, setebal 3 cm. Irisan porang kemudian direndam dalam air garam, direndam selama 4 hari, dan air rendaman diganti sehari sekali.

Setelah direndam, porang dicuci dengan air bersih mengalir dan dijemur selama 3-4 hari. Setelah itu, porang kembali direndam dalam air garam dan diselimuti abu selama 2-3 hari.

Porang dicuci kembali dan dijemur selama 4 hari dan dikukus selama 3 jam. Porang tersebut kemudian dikeringkan kembali dan digoreng menjadi keripik porang, tetapi alangkah baiknya menggunakan teknik vacuum frying karena lebih sehat dibandingkan di goreng. Proses terakhir adalah membumbui dan mengemas porang.